Oleh : Nugi
Tersebutlah dua orang sahabat karib yang bernama Cerdas dan Tolol. Sesuai dengan namanya Cerdas adalah seorang pemuda yang pintar, baik hati, sopan dan rendah hati sementara Tolol adalah pemuda yang sombong, bodoh dan sok pintar serta urakan.
Cerdas dan Tolol keduanya adalah pemelihara kuda, mereka berdua terkenal dalam hal merawat dan memelihara kuda. Sehingga hampir semua pembesar di negerinya jika membutuhkan kuda tunggangan pasti mencari salah satu dari mereka berdua agar memilihkan kuda terbaik.
Meskipun keduanya hebat dalam merawat dan memelihara kuda namun cara dan sikap dalam memelihara kuda sangat berbeda. Cerdas memelihara dan merawat kuda-kudanya dengan penuh kasih sayang dan perhatian sedangkan Tolol memperlakukan kudanya dengan kejam dan kasar. Kadang-kadang Tolol tak segan-segan mencambuki kuda-kudanya untuk memaksakan keinginannya.
Malam yang sangat indah, bintang-bintang tergantung di langit angin meniup serta menerpa Cerdas yang sedang tertidur dengan lelap, jauh ke dalam tidurnya Cerdas bermimpi didatangi oleh seorang kakek berjenggot dan berjubah putih. Kakek tadi menyuruh Cerdas untuk pergi ke danau di seberang desa, di sana akan didapati seekor kuda ajaib. Kuda ajaib ini menurut kakek itu akan mendatangkan rejeki bagi pemeliharanya jika bisa merawat dengan penuh kasih sayang serta kesabaran. Segera setelah kakek berpesan demikian dalam waktu sekejap kakek tadi terbang dan lenyap di telan awan. Seketika Cerdas bangun dari tidurnya, "Ah, rupanya aku bermimpi" gumam Cerdas. Namun pesan kakek yang ditemuinya dalam mimpi tadi sangat mengganggu pikirannya. Antara percaya dan tidak percaya Cerdas mencoba mengikuti saran kakek dalam mimpinya tadi. Segera ia bangun lalu bergegas menuju ke danau sebagaimana pesan kakek jenggot putih yang dijumpainya dalam mimpi.
Sesampainya di danau betapa terkejut Cerdas karena tepat di sebelah timur danau di lihatnya seekor kuda jantan berwarna putih sedang minum air danau yang jernih dan bersih. Pelan-pelan Cerdas mendekati kuda tersebut, dan seolah-olah kuda itu telah mengerti maksud Cerdas. Kuda itu meringkik keras memperlihatkan giginya yang putih bersih, seolah mau mengatakan "Hai Cerdas, apa kabar?". Sambil tersenyum ramah Cerdas mengulurkan tangannya mengelus leher kuda tersebut, Cerdas berkata "Putih, kamu kuda yang hebat dan kokoh, aku mendapat amanat untuk memeliharamu, Ayo kau ke rumahku di sana banyak makanan dan minuman yang tentunya kau sukai". Akhirnya tanpa kesulitan kuda itu pun di bawa ke Istal dan sementara dijadikan satu dengan kuda-kudanya yang lain.
Oleh karena kuda putihnya adalah kuda istimewa maka oleh Cerdas dibuatkan kandang tersendiri, kandang Putih lebih indah dibandingkan kandang kudanya yang lain. Semakin hari Cerdas semakin sayang dan perhatian terhadap Putih dan nampaknya Si Putih pun menyadarinya. Sesekali kuda itu dinaiki Cerdas dan dibawa jalan-jalan keliling desa, orang-orang yang melihatnya mengagumi keindahan dan kegagahan kuda tersebut. Setiap hari Putih selalu memberikan makanan rumput hijau dan kacang-kacangan serta minuman yang istimewa.
Kurang lebih seminggu kuda Putih itu dipelihara oleh Cerdas, hingga suatu pagi sebuah peristiwa ajaib terjadi. Seperti pagi-pagi sebelumnya biasanya Cerdas selalu membersihkan kotoran-kotoran kuda di kandang. Namun anehnya pada saat membersihkan kandang Putih ditemukan keanehan pada kotoran si Putih, karena kotoran Putih terasa lebih berat dibanding kotoran kuda-kudanya yang lain. Setelah diamati ternyata dalam kotoran tersebut terdapat kalung, gelang dan cincin yang terbuat dari emas dan berlian, ia jadi teringat dengan pesan kakek dalam mimpinya tempo hari. Perhiasan-perhiasan kemudian dicucu lalu dibawa kepada penjual perhiasan untuk ditanyakan apakah benar-benar asli atau bukan, dan ternyata semuanya adalah asli. Maka Cerdas pun girang bukan kepalang. Sebagian perhiasan tersebut dijual untuk biaya hidupnya sehari-hari dan sisanya ditabung serta untuk memperbaiki rumah dan membeli perabot-perabot rumah. Sejak saat itu setiap pagi Putih selalu mengeluarkan kotoran yang di dalamnya terdapat perhiasan emas, intan dan berlian. Sekarang Cerdas menjadi orang yang kaya raya, dan bahkan paling kaya di kampungnya. Melihat perubahan yang demikian drastis maka tidak sedikit tetangganya yang curiga kepada Cerdas. Beberapa tetangganya mengira kekayaan Cerdas diperoleh dengan cara yang tidak wajar dan tidak halal. Tidak sedikit tetangga dan kawan-kawannya iri melihat kekayaan Cerdas, dan salah satu yang iri terhadap Cerdas adalah sahabatnya sendiri yaitu si Tolol.
Suatu hari Tolol bertandang ke rumah Cerdas. Setelah berbasa-basi akhirnya Tolol menanyakan bagaimana Cerdas memperoleh kekayaan dengan sedemikian cepat sehingga dia menjadi orang terkaya di kampungnya. Semula Cerdas berniat merahasiakannya namun karena didesak terus oleh sahabatnya akhirnnya Cerdas mengaku dan menceriterakan seluruh kejadiannya kepada Tolol. Tapi dasar Tolol begitu mendengar ceritera Cerdas dia malah tertawa terbahak-bahak sambil mengejek Cerdas sebagai orang yang bodoh."Ha ha ha Cerdas mengapa kau berbohong seperti itu, memangnya aku terlalu bodoh ya untuk dapat kau tipu?" sindir Tolol. "Ya sudah kalau kau tidak percaya Tolol, sebaiknya kita buktikan besok pagi" ajak Cerdas pada sahabatnya yang masih juga belum percaya itu. "Baik aku buktikan besok !" ucap Tolol.
Keesokan harinya Cerdas dan Tolol berdua pagi-pagi sekali mendatangi kandang Putih untuk membersihkan kotoran kuda. "Coba kau ambil kotoran kuda di dalam kandang itu, agar kau percaya dengan kata-kataku" kata Cerdas. Tanpa pikir panjang diambilnya kotoran kuda itu dan dilihatnya dan segera dia terkejut dan berteriak "Gila Das, kamu benar, ternyata akau yang salah tidak mempercayai ceriteramu!". "Kalau begitu tolong pinjamkan kudamu ini padaku barang sebulan agar aku juga bisa kaya sepertimu!" pinta Tolol pada Cerdas. Lalu dijawabnya "Baik, boleh saja tetapi jangan perlakukan kudaku dengan kasar ya?" pinta Cerdas pada sahabatnya. "Baik, kawan!" jawab Tolol sekedarnya, karena di pikirannya sudah dipenuhi keinginan untuk segera kaya raya.
Malam itu juga Putih dibawa ke rumah Tolol, dan kuda pinjaman itu dibawa masuk ke dalam rumah karena Tolol tidak mau orang lain mengetahuinya. Lalu malam itu juga kuda Putih yang dipinjam dari Cerdas ditempatkan di kamar tidurnya, jadi dia tidur bareng kuda. Ditunggunya sampai pagi hingga si kuda buang kotoran pagi hari. Hampir semalaman Tolol gak bisa tidur membayangkan dia akan mendapat harta yang tak terhitung nilainya. "Oho..aku akan kaya ..horeee!" gumammya sendirian seperti orang gila. Keesokan harinya ditunggu-tunggu ternyata Putih gak juga buang kotoran, tentu saja hal ini membuat Tolol menjadi gusar dan marah. Hingga siang tak juga sang kuda membuang kotoran, Tolol habis sudah kesabarannya dan dia pun mulai mengomel serta mengumpat gak karuan. "Dasar kuda dungu dan bodoh!" umpatnya sambil tangannya memukukl pantan kuda tersebut. Spontan Putih melompat dan meringkik marah.
Namun siang itu juga Tolol menyadari bahwa si Putih belum dikasih makan, sehingga ditunggu semalaman tadi kuda tersebut tidak buang kotoran. "A ha, aku ingat rupanya kuda itu harus dikasih makan kemarin aku lupa, nanti kalau sudah dikasih makan pasti akan buang kotoran banyak dan perhiasannya juga banyak" pikirnya. Lalu si Putih segera diberi makan rumput dan air minum tetap dasar Tolol, makanan dan minuman yang diberikan hanya ala kadarnya saja asal banyak jadi si Putuhpun nampaknya kurang berselera apalagi sikap dan perilaku Tolol yang tidak ramah dan selalu menggerutu membuat Putih tidak kerasan tinggal di rumah Tolol. Lain halnya ketika di rumah Cerdas, dia selalu diperlakukan dengan ramah, dan penuh kasih sayang. Rupanya hewan pun juga mengerti dengan sikap tuannya. Kemungkinan akibat sikap dan cara memelihara Tolol inilah yang menyebabkan Putih tidak mau mengeluarkan keajaibannya sebagaimana dilakukannya di rumah Cerdas.
Ketika malam siang mulai beranjak sore maka Putih kembali dimasukkan dalam kamar Tolol, dan karena dia yakin pagi ini pasti Putih buang kotoran yang ada emas dan berlian di dalamnya maka dengan segera dia tidur dekat sekali dengan kuda agar bila sewaktu-waktu Putih buang kotoran maka segera terbangun dan mengambil kotoran kuda ajaib itu. Kembali ketika pagi menjelang Tolo l melihat bahwa Putih menampakkan gejala mau buang kotoran, lalu dia segera bangun dan dengan semangat penuh harap segera menengadahkan tangganya tepat di bawah anus kuda...dan dan Tolol berdebar-debar bukan main, "Amboyyy aku akan kaya, aku akan kaya, aku kaya bentar lagi kaya!" gumamnya berulang ulang. Benar ternyata kuda tersebut buang kotoran dan dengan sigap Tolol menangkap kotoran tersebut lalu di ciumnya ..tapi apa yang terjadi? didapatinya tai kuda biasa yang bau dan kotor "Kurang ajar, kuda sialan!" teriaknya marah sambil muntah-muntah karena ternyata kotoran kuda tersebut benar-benar kotoran kuda biasa dan tak ditemukannya emas berlian sebagaimana di rumah Cerdas. Karena marah besar kuda tersebut ditendang sekuat tenaga oleh Tolol, kuda pun kaget dan menyepak Tolol tepat di perutnya lalu Tolol roboh kesakitan sambil memegang perutnya yang disepak oleh Putih. Putih meronta - ronta sekuat tenaga sambil meringkik marah berhasil melepaskan ikatannya lalu lari keluar, sementara Tolol masih meringis kesakitan tidak bisa bangun akibat perutnya ditendang kuda.
Catatan Penulis :
Ceritera di atas merupakan contoh sikap dan perilaku manusia yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Cerdas mewakili sikap orang yang selalu sabar, mengasihi sesama dan selalu bersyukur sehingga keberuntungan senantiasa berpihak kepadanya. Sedangkan Tolol merupakan contoh orang yang berperilaku kasar, suka menggerutu, mudah marah, grusa-grusu
dan cenderung bertindak tanpa pertimbangan yang mengakibatkan hidupnya selalu dilanda sial dan kemalangan akibat ulahnya sendiri.
Selasa, 12 Agustus 2008
Senin, 11 Agustus 2008
Pangeran Bunga
Oleh : Oleh: Ana P. Dewiyana
Di Negeri Bunga yang indah, hiduplah Pangeran Bunga. Dia sangat tampan, pintar, dan kaya raya. Semua orang di sekitarnya sangat kagum dan menyayanginya.
Namun, o la la ...! Akhir-akhir ini, Pangeran Bunga selalu tampak murung dan kadang-kadang gelisah. Ada apakah gerangan?
Ternyata, Pangeran Bunga sering merasa bosan. Dan Pangeran Bunga sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Dia mencoba mencari tahu. Dibacanya banyak buku. Pangeran bunga pun sering bertanya kepada guru-gurunya, bagaimana caranya agar dia tidak cepat bosan?
Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, Pangeran Bunga belum menemukan jawabannya.
Raja Bunga sangat sedih melihat keadaan Pangeran Bunga. Akhirnya, Raja Bunga mendatangkan seorang yang sangat sakti dari Negeri Setinggi Awan, bernama Profesor.
Profesor mengajak Pangeran Bunga jalan-jalan ke hutan.
Sepanjang perjalanan, Profesor mengajak ngobrol Pangeran Bunga.
Akhirnya, Profesor tahu bahwa Pangeran Bunga sering merasa bosan dengan kehidupannya. Profesor menyarankan agar Pangeran Bunga pergi ke Negeri Langit dan Negeri Perut Bumi.
Keesokan harinya, Pangeran Bunga pergi ke Negeri Langit. Di sana, dia melihat banyak orang yang sakit, tapi tidak ada biaya untuk berobat ke dokter.
Pangeran Bunga pun teringat akan hartanya yang berlimpah.
Dia pun membawa hartanya ke Negeri langit. Dia memberikan uang dan perhiasannya kepada orang-orang sakit itu untuk berobat.
Setelah itu, Pangeran Bunga pergi ke Negeri Perut Bumi. Di sana, dia bertemu dengan anak-anak yang tidak dapat membaca dan menulis.
Pangeran Bunga teringat akan buku-buku miliknya. Maka, dia pulang dan membawa buku-bukunya ke Negeri Perut Bumi.
Di Negeri Perut Bumi, Pangeran Bunga mengajar baca tulis kepada anak-anak itu.
Akhirnya, karena merasa senang bisa membantu orang lain, rasa bosan Pangeran Bunga berangsur-angsur lenyap. Pangeran Bunga pun tidak murung dan gelisah lagi.
Sejak saat itu, sepanjang hidupnya, Pangeran Bunga membantu orang-orang sakit dan mengajar anak-anak.
Di Negeri Bunga yang indah, hiduplah Pangeran Bunga. Dia sangat tampan, pintar, dan kaya raya. Semua orang di sekitarnya sangat kagum dan menyayanginya.
Namun, o la la ...! Akhir-akhir ini, Pangeran Bunga selalu tampak murung dan kadang-kadang gelisah. Ada apakah gerangan?
Ternyata, Pangeran Bunga sering merasa bosan. Dan Pangeran Bunga sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Dia mencoba mencari tahu. Dibacanya banyak buku. Pangeran bunga pun sering bertanya kepada guru-gurunya, bagaimana caranya agar dia tidak cepat bosan?
Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, Pangeran Bunga belum menemukan jawabannya.
Raja Bunga sangat sedih melihat keadaan Pangeran Bunga. Akhirnya, Raja Bunga mendatangkan seorang yang sangat sakti dari Negeri Setinggi Awan, bernama Profesor.
Profesor mengajak Pangeran Bunga jalan-jalan ke hutan.
Sepanjang perjalanan, Profesor mengajak ngobrol Pangeran Bunga.
Akhirnya, Profesor tahu bahwa Pangeran Bunga sering merasa bosan dengan kehidupannya. Profesor menyarankan agar Pangeran Bunga pergi ke Negeri Langit dan Negeri Perut Bumi.
Keesokan harinya, Pangeran Bunga pergi ke Negeri Langit. Di sana, dia melihat banyak orang yang sakit, tapi tidak ada biaya untuk berobat ke dokter.
Pangeran Bunga pun teringat akan hartanya yang berlimpah.
Dia pun membawa hartanya ke Negeri langit. Dia memberikan uang dan perhiasannya kepada orang-orang sakit itu untuk berobat.
Setelah itu, Pangeran Bunga pergi ke Negeri Perut Bumi. Di sana, dia bertemu dengan anak-anak yang tidak dapat membaca dan menulis.
Pangeran Bunga teringat akan buku-buku miliknya. Maka, dia pulang dan membawa buku-bukunya ke Negeri Perut Bumi.
Di Negeri Perut Bumi, Pangeran Bunga mengajar baca tulis kepada anak-anak itu.
Akhirnya, karena merasa senang bisa membantu orang lain, rasa bosan Pangeran Bunga berangsur-angsur lenyap. Pangeran Bunga pun tidak murung dan gelisah lagi.
Sejak saat itu, sepanjang hidupnya, Pangeran Bunga membantu orang-orang sakit dan mengajar anak-anak.
KISAH WAKIJO DAN WAKINO
Ditulis oleh : Nugi
Hiduplah dua orang anak yatim piatu di suatu tempat di sebelah selatan kota Yogyakarta. Nama dua bersaudara itu adalah Wakijo dan Wakino. Wakijo berusia 13 tahun sementara adiknya Wakino 9 tahun. Kedua orang tuanya meninggal pada saat gempa bumi yang dahsyat melanda Yogyakarta beberapa saat yang lalu. Oleh karena mereka sudah tidak mempunyai saudara maupun kerabat di desanya maka keduanya sekarang hanya hidup berdua di rumahnya. Rumah yang didiami sekarang merupakan rumah kecil yang dibangun oleh program renovasi rumah korban gempa bumi. Di rumah yang mungil itu di dalamnya hanya terdapat perabotan yang sangat sederhana, tampak tiga buah kursi kayu tua, sebuah meja persegi yang sudah reyot dan sebuah lincak sederhana, di sisi kiri pintu masuk terdapat 2 kamar yang hanya tertutup dengan gorden yang di dalamnya masing-masing terdapat sebuah amben beralas tikar tanpa kasur . Nampak di sebelah belakang dapur dengan peralatan masak seadanya dengan tungku kayu bakar. Di rumah inilah Wakijo dan Wakino tinggal tanpa orang tua serta sanak saudara.
Saat ini Wakijo masih bersekolah dan duduk di kelas I di salah satu SMP swasta di kecamatannya sementara Wakino masih duduk di kelas IV SD. Biaya sekolah Wakijo dan Wakino ditanggung oleh pemerintah daerah sampai mereka tamat SLTA. Untuk hidup sehari-hari Wakijo dan Wakino terpaksa harus membanting tulang bekerja serabutan. Setiap hari Wakijo dan Wakino bangun sebelum subuh, sang kakak segera pergi ke rumah Pak Sobari yang jaraknya beberapa puluh meter dari rumahnya untuk membantu membersihkan rumah menyapu serta memberi makan ternaknya. Sebenarnya Pak Sobari hanya kasihan melihat dua anak yatim piatu tersebut, dia tidak tega melihat kehidupan keduanya yang sudah harus hidup sendiri tanpa kasih sayang orang tuanya lagi. Pekerjaan yang diberikan kepada Wakijo sebenarnya bisa dilakukan sendiri oleh Pak Sobari, oleh karena niat baik untuk sekedar menolong dan membantu Wakijo dan adiknya maka pekerjaan tersebut dibebankan kepada Wakijo dan juga rupanya kedua anak tersebut tidak mau menerima bantuan begitu saja tanpa keduanya bekerja, sungguh sikap yang patut diteladani yaitu mereka meskipun masih kecil tetapi mau bekerja keras dan tidak pemalas. Sementara kakaknya bekerja di rumah Pak Sobari Wakino di rumah juga tidak tinggal diam, dia memasak, menjerang air serta mengisi bak mandi serta mempersiapkan sarapan sebelum mereka berdua berangkat ke sekolah.
Pukul 6.45 WIB keduanya berangkat berboncengan naik sepeda Jengki peninggalan orangtuanya. Wakino mengantar adiknya terlebih dahulu sebelum dia menuju ke sekolahnya, tetapi kadang-kadang Wakijo berangkat sendiri dengan berjalan kaki jika kakaknya harus berangkat lebih pagi karena disuruh oleh Pak Sobari untuk sutu keperluan. Kedua kakak beradik ini hidup sangat rukun satu sama lain bahkan di kampungnya keduanya dijadikan contoh bagi anak-anak yang lain seusianya.
Sepulang sekolah baik Wakino maupun Wakijo tidak langsung pulang ke rumah tetapi biasanya mereka terlebih dahulu ke pasar membantu Bu Watirah menurunkan dagangannya, melayani pembeli maupun menjagakan warung sembakonya sementara Bu Watirah pergi ke kota untuk kulakan. Dari membantu di pasar tersebut mereka berdua diberi sekedar uang jajan sebesar masing-masing Rp 5.000,- Bagi Wakino dan Wakijo uang sebesar itu cukup berati, karena dari uang tersebut biasanya hanya dibelanjakan untuk beli beras sekilo untuk 2 hari dan bumbu dapur sedang sisanya ditabung. Sekitar jam 4 sore mereka berdua sudah sampai rumah. Walaupun seharian bekerja namun pada malam harinya mereka berdua tetap belajar dengan rajin, Wakijo dan Wakino selalu membaca serta mengulangi pelajaran yang telah diberikan oleh gurunya pada hari itu dan tidak lupa mempersiapkan buku-buku untuk pelajaran esok harinya.
Waktu berganti demikian seterusnya, oleh karena rajin dan ramah serta kesopanan kedua kakak beradik ini maka hampir setiap orang senang dan simpati pada mereka berdua. Banyak orang yang entah karena iba ataupun membutuhkan tenaganya selalu memanggil Wakijo dan Wakino untuk meminta bantuan mereka. Setiap kali mereka berdua menerima upah dalam bekerja selalu disisihkan sebagian untuk ditabung. Sehingga lama kelamaan uang yang telah mereka tabung di celengan sudah lumayan banyak. Rupanya Wakijo dan adiknya tidak menyadari bahwa uang yang dikumpulkannya telah sedemikian banyak. Pada suatu malam mereka berdua selepas belajar berbincang-bincang membicarakan dan merencanakan untuk membuka celengan mereka dan membelanjakannya. "No, kamu sudah tidur?" kata Wakijo kepada adiknya. "Durung Kang, lha ada apa to?" sahut adiknya. "Begini lho No, kira-kira uang yang sudah kita kumpulkan sudah berapa ya jumlahnya?" cetus Wakijo. Adiknya pun menimpali "Lha bagaimana kalo kita buka saja Kang, biar tahu berapa jumlahnya aku juga sudah tidak sabar je". "Eh kira-kira hasilnya mau dibelikan apa ya?" tanya Wakijo lagi pada adiknya. "Ah, embuh Kang, aku ora ngerti, kalau aku manut saja sama Kang Wakijo" jawab Wakino. Wakijo menukas " Yo wis, besuk kita buka dan dihitung, usulku kita belikan saja sesuatu yang bisa berkembang dan tidak habis dipakai, wis gage tidur besuk kita harus bangun pagi kan?" kata Wakijo mengakhiri pembicaraan. Sesaat kemudian mereka sudah terlelap dalam tidurnya masing-masing.
Keesokam harinya celengan mereka dibuka, terkejutlah mereka berdua, dan hampir saja keduanya menjerit karena setelah dihitung-hitung berkali-kali uang yang terkumpul berjumlah Rp 455.700,- sebuah jumlah yang tidak sedikit bagi anak yatim piatu seperti mereka. Untuk sesaat mereka berdua tercenung dan terdiam sampai akhirnya Wakino mebuka suara, "Kang Wakijo, bagaimana bila hasil tabungan kita dibelikan kambing atau hewan peliharaan? agar kita berdua bisa memeliharanya dan hasilnya nati bisa dijual lagi sehingga uang kita berkembang dan tamabah banyak, piye?". Wakijo hanya terdiam, air matanya meleleh dan mulutnya bergetar karena rasa haru yang luar biasa, sejurus waktu kemudian Wakijo memeluk erat adiknya yang masih bingung. " Oh le Wakino...kamu cerdas dan idemu sangat hebat, kamu sangat pinter Wakino..aku bangga punya adik seperti dirimu" ucap Wakijo sambil menangis tak kuasa menahan harunya. Sementara Wakino terdiam turut larut dalam keharuan, keduanya jadi teringat pada kedua orang tua mereka yang telah tiada, mereka tidak pernah membayangkan harus hidup serba susah dan dalam usia yang masih sangat muda harus berjuang sendirian demi menyambung hidup. Namun keduanya tetap berucap syukur pada Tuhan meskipun sendirian tanpa orang tua serta sanak saudara tetapi kasihNya tidak pernah padam, bahkan kini mereka berdua dikaruniai sifat pantang menyerah, rajin, jujur serta ulet.
Akhirnya uang hasil tabungan mereka yang telah terkumpul dibelikan 3 ekor kambing yang masih cempe. Mulai hari itulah kehidupan mereka mulai berubah, karena setiap hari disibukkan untuk mengurusi ketiga kambingnya yang masih kecil-kecil. Meskipun demikian kegiatan sehari-hari tetap dilakukan seperti biasa. Wakijo tetap setiap pagi membantu Pak Sobari dan sepulang sekolah membantu Bu Watirah di pasar. Sore hari sebelum Magrib bergantian Wakino dan Wakijo mencari rumput buat kambing-kambingnya. Demikian hari-hari mereka lalui dengan riang gembira dan selalu rukun satu sama lain.
Hampir 11 bulan Wakijo dan Wakino memelihara kambingnya, rupanya ke tiga kambing peliharaanya sudah demikian besar dan gemuk serta sehat, kebetulan sebulan lagi umat Islam akan merayakan Hari Idul Adha, artinya kambing yang dipelihara bisa dijual dan mereka akan mendapat untung berlipat. Pada saat menjelang hari Idul Adha, kebetulan Pak Haji Basiran sedang mencari kambing hendak dijadikan korban bagi keluarganya. Kebetulan pula Pak Haji Basiran masih kerabat dengan Pak Sobari sehingga begitu tahu saudaranya membutuhkan kambing yang sehat segera ditunjukkan Wakijo dan adiknya. Rupanya Pak haji Basiran pun setuju dan ingin dilihatnya kambing tersebut. Dua hari kemudian Pak haji Basiran datang ke rumah Wakijo untuk melihat sendiri kambing yang hendak dibelinya tersebut. "Alhamdulillah, Mas Sobari, kambing-kambing ini yang saya cari!" seru Pak haji Basiran kepada Pak Sobari. Akhirnya sepakat kambing tersebut dibeli dengan harga per ekor Rp 400.000,- sehingga seluruhnya laku Rp 1.200.000,-. Bukan main riangnya kedua anak yatim tersebut, seumur-umur baru kali inilah mereka memegang uang jutaan rupiah. Uang tersebut rencananya alan dibelikan lagi kambing untuk dipelihara.
Lama berselang, setelah beberapa tahun berlalu, Wakiono dan wakijo telah tumbuh menjadi lelaki yang dewasa, berbekal keterampilan dan kerja keras mereka dibantu bea siswa dari pemerintah akhirnya mereka berdua dapat menamatkan sekolahnya masing-masing. Sekarang Wakino telah lulus dari sebuah Akademi Peternakan dan Wakijo adiknya masih duduk di semester akhir dari Fakultas Pertanian di universitas terkenal di wilayah tersebut. Wakijo tetap menggeluti bidang peternakan dibantu oleh adiknya, dan sekarang mereka berdua telah memiliki peternakan kambing terbesar di daerah tersebut dengan jumlah kambing sekitar 600 ekor . Kini Wakijo dan Wakino bahkan telah mempekerjakan 6 orang untuk membantu memelihara kambing-kambingnya. Wakijo dan Wakino telah menjadi peternak kambing yang sukses. Mereka kini telah tinggal di rumahnya yang telah direnovasi, rumahnya meskipun sederhana tetapi sudah diperbesar dan dipercantik dengan teras dan taman yang asri dengan perabot yang sudah lumayan modern dengan TV, kursi sofa dan kulkas di dalamnya. Sekarang hidup keduanya sudah makmur dan terpandang di desanya.
Kisah di atas merupakan gambaran bagi kita semua, bahwasanya kesulitan dalam hidup manusia dapat dihadapi jika kita tabah dan mempunyai itikat/niat kuat untuk melepaskan diri dari kesulitan tersebut. Wakijo dan Wakino merupakan contoh pribadi yang rajin, jujur, ulet dan pintar mengelola uang/pendapatannya. Kita semua bisa sukses seperti halnya pemuda desa Wakijo dan Wakino di atas apabila kita selalu rajin, jujur, hemat serta ramah terhadap sesama
(nugi).
Hiduplah dua orang anak yatim piatu di suatu tempat di sebelah selatan kota Yogyakarta. Nama dua bersaudara itu adalah Wakijo dan Wakino. Wakijo berusia 13 tahun sementara adiknya Wakino 9 tahun. Kedua orang tuanya meninggal pada saat gempa bumi yang dahsyat melanda Yogyakarta beberapa saat yang lalu. Oleh karena mereka sudah tidak mempunyai saudara maupun kerabat di desanya maka keduanya sekarang hanya hidup berdua di rumahnya. Rumah yang didiami sekarang merupakan rumah kecil yang dibangun oleh program renovasi rumah korban gempa bumi. Di rumah yang mungil itu di dalamnya hanya terdapat perabotan yang sangat sederhana, tampak tiga buah kursi kayu tua, sebuah meja persegi yang sudah reyot dan sebuah lincak sederhana, di sisi kiri pintu masuk terdapat 2 kamar yang hanya tertutup dengan gorden yang di dalamnya masing-masing terdapat sebuah amben beralas tikar tanpa kasur . Nampak di sebelah belakang dapur dengan peralatan masak seadanya dengan tungku kayu bakar. Di rumah inilah Wakijo dan Wakino tinggal tanpa orang tua serta sanak saudara.
Saat ini Wakijo masih bersekolah dan duduk di kelas I di salah satu SMP swasta di kecamatannya sementara Wakino masih duduk di kelas IV SD. Biaya sekolah Wakijo dan Wakino ditanggung oleh pemerintah daerah sampai mereka tamat SLTA. Untuk hidup sehari-hari Wakijo dan Wakino terpaksa harus membanting tulang bekerja serabutan. Setiap hari Wakijo dan Wakino bangun sebelum subuh, sang kakak segera pergi ke rumah Pak Sobari yang jaraknya beberapa puluh meter dari rumahnya untuk membantu membersihkan rumah menyapu serta memberi makan ternaknya. Sebenarnya Pak Sobari hanya kasihan melihat dua anak yatim piatu tersebut, dia tidak tega melihat kehidupan keduanya yang sudah harus hidup sendiri tanpa kasih sayang orang tuanya lagi. Pekerjaan yang diberikan kepada Wakijo sebenarnya bisa dilakukan sendiri oleh Pak Sobari, oleh karena niat baik untuk sekedar menolong dan membantu Wakijo dan adiknya maka pekerjaan tersebut dibebankan kepada Wakijo dan juga rupanya kedua anak tersebut tidak mau menerima bantuan begitu saja tanpa keduanya bekerja, sungguh sikap yang patut diteladani yaitu mereka meskipun masih kecil tetapi mau bekerja keras dan tidak pemalas. Sementara kakaknya bekerja di rumah Pak Sobari Wakino di rumah juga tidak tinggal diam, dia memasak, menjerang air serta mengisi bak mandi serta mempersiapkan sarapan sebelum mereka berdua berangkat ke sekolah.
Pukul 6.45 WIB keduanya berangkat berboncengan naik sepeda Jengki peninggalan orangtuanya. Wakino mengantar adiknya terlebih dahulu sebelum dia menuju ke sekolahnya, tetapi kadang-kadang Wakijo berangkat sendiri dengan berjalan kaki jika kakaknya harus berangkat lebih pagi karena disuruh oleh Pak Sobari untuk sutu keperluan. Kedua kakak beradik ini hidup sangat rukun satu sama lain bahkan di kampungnya keduanya dijadikan contoh bagi anak-anak yang lain seusianya.
Sepulang sekolah baik Wakino maupun Wakijo tidak langsung pulang ke rumah tetapi biasanya mereka terlebih dahulu ke pasar membantu Bu Watirah menurunkan dagangannya, melayani pembeli maupun menjagakan warung sembakonya sementara Bu Watirah pergi ke kota untuk kulakan. Dari membantu di pasar tersebut mereka berdua diberi sekedar uang jajan sebesar masing-masing Rp 5.000,- Bagi Wakino dan Wakijo uang sebesar itu cukup berati, karena dari uang tersebut biasanya hanya dibelanjakan untuk beli beras sekilo untuk 2 hari dan bumbu dapur sedang sisanya ditabung. Sekitar jam 4 sore mereka berdua sudah sampai rumah. Walaupun seharian bekerja namun pada malam harinya mereka berdua tetap belajar dengan rajin, Wakijo dan Wakino selalu membaca serta mengulangi pelajaran yang telah diberikan oleh gurunya pada hari itu dan tidak lupa mempersiapkan buku-buku untuk pelajaran esok harinya.
Waktu berganti demikian seterusnya, oleh karena rajin dan ramah serta kesopanan kedua kakak beradik ini maka hampir setiap orang senang dan simpati pada mereka berdua. Banyak orang yang entah karena iba ataupun membutuhkan tenaganya selalu memanggil Wakijo dan Wakino untuk meminta bantuan mereka. Setiap kali mereka berdua menerima upah dalam bekerja selalu disisihkan sebagian untuk ditabung. Sehingga lama kelamaan uang yang telah mereka tabung di celengan sudah lumayan banyak. Rupanya Wakijo dan adiknya tidak menyadari bahwa uang yang dikumpulkannya telah sedemikian banyak. Pada suatu malam mereka berdua selepas belajar berbincang-bincang membicarakan dan merencanakan untuk membuka celengan mereka dan membelanjakannya. "No, kamu sudah tidur?" kata Wakijo kepada adiknya. "Durung Kang, lha ada apa to?" sahut adiknya. "Begini lho No, kira-kira uang yang sudah kita kumpulkan sudah berapa ya jumlahnya?" cetus Wakijo. Adiknya pun menimpali "Lha bagaimana kalo kita buka saja Kang, biar tahu berapa jumlahnya aku juga sudah tidak sabar je". "Eh kira-kira hasilnya mau dibelikan apa ya?" tanya Wakijo lagi pada adiknya. "Ah, embuh Kang, aku ora ngerti, kalau aku manut saja sama Kang Wakijo" jawab Wakino. Wakijo menukas " Yo wis, besuk kita buka dan dihitung, usulku kita belikan saja sesuatu yang bisa berkembang dan tidak habis dipakai, wis gage tidur besuk kita harus bangun pagi kan?" kata Wakijo mengakhiri pembicaraan. Sesaat kemudian mereka sudah terlelap dalam tidurnya masing-masing.
Keesokam harinya celengan mereka dibuka, terkejutlah mereka berdua, dan hampir saja keduanya menjerit karena setelah dihitung-hitung berkali-kali uang yang terkumpul berjumlah Rp 455.700,- sebuah jumlah yang tidak sedikit bagi anak yatim piatu seperti mereka. Untuk sesaat mereka berdua tercenung dan terdiam sampai akhirnya Wakino mebuka suara, "Kang Wakijo, bagaimana bila hasil tabungan kita dibelikan kambing atau hewan peliharaan? agar kita berdua bisa memeliharanya dan hasilnya nati bisa dijual lagi sehingga uang kita berkembang dan tamabah banyak, piye?". Wakijo hanya terdiam, air matanya meleleh dan mulutnya bergetar karena rasa haru yang luar biasa, sejurus waktu kemudian Wakijo memeluk erat adiknya yang masih bingung. " Oh le Wakino...kamu cerdas dan idemu sangat hebat, kamu sangat pinter Wakino..aku bangga punya adik seperti dirimu" ucap Wakijo sambil menangis tak kuasa menahan harunya. Sementara Wakino terdiam turut larut dalam keharuan, keduanya jadi teringat pada kedua orang tua mereka yang telah tiada, mereka tidak pernah membayangkan harus hidup serba susah dan dalam usia yang masih sangat muda harus berjuang sendirian demi menyambung hidup. Namun keduanya tetap berucap syukur pada Tuhan meskipun sendirian tanpa orang tua serta sanak saudara tetapi kasihNya tidak pernah padam, bahkan kini mereka berdua dikaruniai sifat pantang menyerah, rajin, jujur serta ulet.
Akhirnya uang hasil tabungan mereka yang telah terkumpul dibelikan 3 ekor kambing yang masih cempe. Mulai hari itulah kehidupan mereka mulai berubah, karena setiap hari disibukkan untuk mengurusi ketiga kambingnya yang masih kecil-kecil. Meskipun demikian kegiatan sehari-hari tetap dilakukan seperti biasa. Wakijo tetap setiap pagi membantu Pak Sobari dan sepulang sekolah membantu Bu Watirah di pasar. Sore hari sebelum Magrib bergantian Wakino dan Wakijo mencari rumput buat kambing-kambingnya. Demikian hari-hari mereka lalui dengan riang gembira dan selalu rukun satu sama lain.
Hampir 11 bulan Wakijo dan Wakino memelihara kambingnya, rupanya ke tiga kambing peliharaanya sudah demikian besar dan gemuk serta sehat, kebetulan sebulan lagi umat Islam akan merayakan Hari Idul Adha, artinya kambing yang dipelihara bisa dijual dan mereka akan mendapat untung berlipat. Pada saat menjelang hari Idul Adha, kebetulan Pak Haji Basiran sedang mencari kambing hendak dijadikan korban bagi keluarganya. Kebetulan pula Pak Haji Basiran masih kerabat dengan Pak Sobari sehingga begitu tahu saudaranya membutuhkan kambing yang sehat segera ditunjukkan Wakijo dan adiknya. Rupanya Pak haji Basiran pun setuju dan ingin dilihatnya kambing tersebut. Dua hari kemudian Pak haji Basiran datang ke rumah Wakijo untuk melihat sendiri kambing yang hendak dibelinya tersebut. "Alhamdulillah, Mas Sobari, kambing-kambing ini yang saya cari!" seru Pak haji Basiran kepada Pak Sobari. Akhirnya sepakat kambing tersebut dibeli dengan harga per ekor Rp 400.000,- sehingga seluruhnya laku Rp 1.200.000,-. Bukan main riangnya kedua anak yatim tersebut, seumur-umur baru kali inilah mereka memegang uang jutaan rupiah. Uang tersebut rencananya alan dibelikan lagi kambing untuk dipelihara.
Lama berselang, setelah beberapa tahun berlalu, Wakiono dan wakijo telah tumbuh menjadi lelaki yang dewasa, berbekal keterampilan dan kerja keras mereka dibantu bea siswa dari pemerintah akhirnya mereka berdua dapat menamatkan sekolahnya masing-masing. Sekarang Wakino telah lulus dari sebuah Akademi Peternakan dan Wakijo adiknya masih duduk di semester akhir dari Fakultas Pertanian di universitas terkenal di wilayah tersebut. Wakijo tetap menggeluti bidang peternakan dibantu oleh adiknya, dan sekarang mereka berdua telah memiliki peternakan kambing terbesar di daerah tersebut dengan jumlah kambing sekitar 600 ekor . Kini Wakijo dan Wakino bahkan telah mempekerjakan 6 orang untuk membantu memelihara kambing-kambingnya. Wakijo dan Wakino telah menjadi peternak kambing yang sukses. Mereka kini telah tinggal di rumahnya yang telah direnovasi, rumahnya meskipun sederhana tetapi sudah diperbesar dan dipercantik dengan teras dan taman yang asri dengan perabot yang sudah lumayan modern dengan TV, kursi sofa dan kulkas di dalamnya. Sekarang hidup keduanya sudah makmur dan terpandang di desanya.
Kisah di atas merupakan gambaran bagi kita semua, bahwasanya kesulitan dalam hidup manusia dapat dihadapi jika kita tabah dan mempunyai itikat/niat kuat untuk melepaskan diri dari kesulitan tersebut. Wakijo dan Wakino merupakan contoh pribadi yang rajin, jujur, ulet dan pintar mengelola uang/pendapatannya. Kita semua bisa sukses seperti halnya pemuda desa Wakijo dan Wakino di atas apabila kita selalu rajin, jujur, hemat serta ramah terhadap sesama
(nugi).
Langganan:
Postingan (Atom)